Jumat, 31 Agustus 2012

GURU BUKANNYA MAJIKAN TETAPI SEBAGAI PELAYAN SISWA


            Pernah suatu ketika penulis mendengarkan pengajian dari Bapak Kyai Hambali dari Mojokerto di Masjid Taman, Madiun yang intinya bahwa amal atau perbuatan yang paling disenangi Allah adalah “menyenangkan orang lain” jadi bagi kita orang Islam sudah bukan barang atau perbuatan yang asing bahwa “menyenangkan orang lain adalah merupakan kewajiban”. Kalau kita sedikit saja mengikuti Rosul tentu kita tidak akan merasa  menjadi orang penting dan minta diperhatikan.

Contoh lain, setiap Nabi ke masjid untuk sembahyang subuh selalu ada kotoran di depan rumahnya dan dengan sabar Nabi membersihkannya, suatu hari kotoran tersebut tidak ada dan Nabi tidak membersihkannya, sehingga nabi bertanya pada sahabat :  kemana si pembuang kotoran di depan rumah itu?. Para sahabat menjawab: dia sedang sakit, mendengar dia sakit, mari nanti setelah sembahyang subuh kita ke sana. Setelah dido’akan, si pembuang kotoran tersebut sembuh dan seketika itu masuk Islam. Dari situ kita bisa membayangkan bagaimana gambaran akhlak seorang pemimpin melayani rakyatnya bahkan musuhnya sekalipun.
Kita sebagai pegawai negeri adalah abdi masyarakat, bukannya golongan ningrat sebab uang (gaji) yang kita peroleh dari rakyat. Jadi kita mendapat amanat dari rakyat untuk melayaninya dengan baik dan kuat serta bersahabat. Pelayan  harus menyenangkan majikan, bukannya kita malah minta diperhatikan kemudian mempersulit orang lain atau merasa kita ini orang penting sehingga sulit untuk ditemui.
Sebagian besar orang kita kalau sudah menjadi pejabat susah untuk dicari, bukannya karena sibuk, tetapi kelihatan menyibukkan diri, sehingga kelihatan menjadi orang penting yang sulit unrtuk bertemu dengan rakyatnya. Kita perlu mencontoh presiden kita yang ke-4 Gus Dur dalam  keinginannya untuk bertemu atau menjamu rakyatnya, sampai dia membuka kantor sendiri demi rakyatnya yang kemungkinan sulit untuk bertemu, karena  terbentur birokrasi protokoler kepresidenan.
Apalagi sosok seorang guru, bukannya kita menjadi orang yang serba tahu dan harus dituruti semua keinginannya, tetapi kita adalah sebagai pembantu dari murid yang lebih berat pekerjaannya  untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru sebagai pelayan harus bisa membuat suasana menyenangkan. Apabila datang membuat senang dan sebaliknya apabila pulang mereka akan  terasa kurang serta hilangan. Kedatangannya selalu dinanti bukannya membuat anak tidak senang dan menakutkan sehingga membuat anak tidak bisa konsentrasi untuk belajar
Guru yang efektif dan efisien seperti “Tipe Guru Wajib” yang diungkapkan  Drs. Yusron Hadi Kepala Sekolah SLTPN 3 Porong Sidoarjo, yaitu keberadaannya sangat disukai, harus ada, wajahnya selalu jernih dengan penuh senyum, tutur katanya sopan, tak pernah melukai hati siapapun, ramah, sabar, penampilan selalu rapi, etos kerjanya sangat tinggi, tak ada istilah cari muka, dia tak memandang muridnya sebagai bawahan, dan keadaan keluarganya serasi.
Kebiasaan kita senang kalau kita disanjung, dipuji dan ABS (asal bapak senang) atau asal menyenangkan atasan walaupun dengan jalan melaporkan hal-hal yang selalu baik meskipun sebenarnya jelek atau belum selesai atau bahkan menipu sekalipun.  Kebanyakan orang Indonesia memang demikian adanya. Seperti yang diceritakan Gus Dur dalam anekdotnya “suatu ketika ada kapal yang mau tenggelam, sedangkan penumpangnya dari berbagai negara. Disitu ada juga jin yang ingin membalas budi dengan menolong orang-orang yang ada di situ, dengan berkata : ”Hei orang Inggris kau minta apa, dia menjawab saya ingin dipulangkan.” Mengapa? Karena apartemen saya bagus pabrik saya tidak ada yang mengurus dsb. Kemudian dengan kekuatannya  jin tersebut memulangkan orang Inggris itu. Sedang orang Jerman ditanya juga sama ingin dipulangkan, Mengapa Jin bertanya. Karena istri saya masih muda mobil saya bagus dan pekerjaan saya banyak. Tibalah Jin bertanya kepada orang yang terakhir kebetulan dari Indonesia: minta apa hei orang Indonesia? Saya minta orang-orang yang tadi minta dipulangkan, dikembalikan lagi kesini. Mengapa? Jin bertanya penuh curiga. Karena kalau saya pulang tidak punya rumah, hutangnya banyak, kos belum bayar sehingga lebih baik kita mati bersama di sini. Beginilah kebanyakan orang Indonesia kalau ada orang yang sukses, orang lain akan tidak senang dan iri terhadapmya.
Sulit memahami sikap orang Indonesia yang cenderung menutup diri, tidak terbuka sehingga sulit juga untuk menyadari kenyataan diri sendiri. Apalagi kalau profesi mereka menjadi seorang guru akan berakibat terhadap anak didik sebagai generasi penerus kita. Guru merasa banyak ilmu sehingga malas untuk membaca. Kadang-kadang kalau ditanya muridnya dan belum bisa menjawab, mereka marah dan justru akan membunuh kreativitas anak didik. Penulis sering juga mengatakan kepada anak didik untuk bertanya dan kalau perlu mengecek gurunya siap atau tidak, kalau anda tidak pernah bertanya nanti akan dikibulin bulat-bulat.
Kerterbukaan sangat didambakan semua lapisan manusia, apalagi kita seorang guru yang salalu berhadapan dengan anak manusia yang selalu membutuhkan bantuan kepada orang lain. Manusia hidup di atas pundak pribadi dan sosial. Kehidupan sosial inilah yang paling sulit untuk dipelajari dan ditumbuh kembangkan secara baik dan benar serta inovatif. Guru adalah penerang dalam kegelapan, tetapi jangan sampai seperti lilin yang menerangi lingkungan tetapi mereka akan mati terbakat oleh dirinya sendiri.
Akibat yang kita rasakan dari pegawai (priyayi) yang sering mengereh orang lain justru sebaliknya negara kita sekarang menjadi negara yang disetir (menjadi bola pingpong) negara lain, dan yang paling manjur baru mampu mengekspor tenaga kasar untuk menghidupi dan menambah devisa negara. Hampir sembilan tahun sudah kita belum menemukan titik terang untuk mengatasi krisis multi dimensi ini. Biaya ekonomi tinggi sebab semua pekerjakan harus diserta upeti.
Indonesia yang selama ini “subur makmur dan gemah ripah loh jinawi” hanya menjadi ajang perebutan dan pengerukan sumber daya alam oleh negara lain, karena kita belum mampu untuk menemukan dan mengolahnya. Indonesia saat ini baru dikenal  karena Pulau Bali dan Borobudur. Dengan ketradisionalan dan kepolosan kita beramai-ramai mengirim tenaga kasar untuk menambah pahlawan devisa kita, bukannya tenaga ahli yanga dihargai dengan nilai tinggi.
Akhir kata, kita sebagai abdi, pelayan, pembantu dan perantara masyarakat  harus tahu kondisi yang kita hadapi. Bukan malah sebaliknya kita  minta diperhatikan dan dilayani, seperti pegawai jaman penjajahan yang selalu dipuji dan diberi sesaji serta upeti.
Seharusnya guru selalu ditunggu kedatangannya untuk menyampaikan ilmu (iptek dan imtaq) serta bersedia  melayani sang generasi yang dinanti kehadirannya di masa akan datang guna menggantikan generasi tua. Harapannya mereka bisa menahkodai negara ini dengan penuh kesejahteraan dan keadilan serta diperhitungkan oleh negara lain. Bukannya menjadi pembantu di rumah sendiri.
Oleh: Drs. Edy Siswanto,M.Pd.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar